Exhausted

Rabu dini hari, 17 Agustus 2005

Dengan perlahan kukunyah nasi goreng di perempatan Jl. Sukarno-Hatta–Pasir Koja. Hawa dingin  menusuk kulit malam ini, sementara jarum pendek jam sudah bergerak mendekati angka 2. Sambil menikmati hidangan, kepalaku masih terasa berat setelah tertidur 3 jam dr terminal bis Kampung Rambutan. Begitu bangun, bis sudah melaju memasuki gerbang tol Padalarang barat. Kurang lebih 5 menit kemudian, aku turun di perempatan yg biasa disebut "Holis"(walaupun sebenarnya bukan) dan beristirahat sejenak mengusir rasa lelah dan ngantuk malam itu.

Aku sampai di Bandung. Aku Pulang.

Masih terbayang beberapa jam lalu, aku masih terjepit di sela-sela puluhan manusia di dalam bis kota Blok M-Kampung Melayu, setelah sebelumnya terjebak kemacetan di ruas jalan Semanggi Jakarta. Benar-benar pengalaman yang melelahkan. Hari ini untuk pertama kalinya, aku merasakan denyut nadi ibukota yang sebenarnya.

Biasanya aku ke Jakarta hanya sekedar buat jalan-jalan, mengunjungi saudara, atau sekedar lewat sebelum pulang kampung. Dalam 3 bulan terakhir, ibukota begitu akrab dalam hidupku. Di ibukota ini, pertama kalinya aku merasakan putus asa yang luar biasa setelah percobaan TA yang sudah setengah tahun kukerjakan, nyaris gagal. Di sini pula aku merasakan bagaimana tegangnya saat-saat wawancara penerimaan karyawan baru minggu lalu. Dan hari ini, untuk kali pertama, aku merasakan bagaimana menjadi bagian dr ibukota. Yah …. ini hari aku mulai bekerja.

Allah sudah menetapkan rizqi yang pantas kepada tiap hamba-Nya, dan memberikannya dengan cara yang berbeda dan umumnya tidak terduga. Minggu lalu, aku sama sekali tidak mengira kalau CV yang iseng kukirim lewat email itu akan dibalas hanya dalam waktu dua jam. Tadinya aku sudah agak pesimis kalau CV itu akan diterima, karena pengumuman lamaran kerja sudah ditempel di papan pengumuman lebih dari seminggu. Nggak taunya, panggilan wawancara itu datang.

Allah memang Maha Pemurah. Dua hari setelah wawancara, aku dipanggil lagi ke Thamrin. Kali ini cuman berdua dengan teman se-Lab yang jg ikut diwawancara. Dan seperti dugaan, kami berdua diterima di divisi IT perusahaan itu. Perusahaan yang sebenarnya masih merupakan bagian dari badan usaha milik negara.

———————————————————
Selasa Pagi, 16 Agustus 2005

Hari pertama bekerja, aku sengaja pergi pagi-pagi. Tujuannya jelas, untuk menghindari kemacetan ibukota yang menggila di pagi hari, hitung-hitung untuk memberi kesan baik ke atasan. Pergi jam setengah 6 pagi, aku sampai di lab jam 7. Lumayan capek juga.

Lab tempat kerjaku, terletak di lantai 2, sebuah gedung yang umurnya kuperkirakan sudah 15-20 tahun. Sudah ada beberapa bagiannya yang rusak dimakan usia, sementara bau kayu lapuk tercium dari dalam ruangan. Dalam hati aku sempat bertanya, kok bisa gedung-gedung tua ini dijadikan pusat riset dan iptek negeri ini ? Kusingkirkan jauh-jauh semua pikiran negatif dan melangkah masuk. Keadaan lab-lab dalam gedung masih lumayan baik dari penampilan luar gedung. Lantai diselimuti karpet dan komputer-komputer bertebaran di mana-mana. Setelah berkenalan dengan seorang karyawan lab, aku mengamati suasana tempat kerjaku yang baru.

Panas.

Itu kesan pertama^^. Belum sempat aku nanya, karyawan tadi bilang kalo AC sentral sudah rusak, sementara AC yang baru belum datang. Waduh. Padahal aku paling nggak tahan panas. Untungnya masih ada kipas angin, walaupun panasnya masih tetap terasa.

Hari pertama berlalu dengan cepatnya. Aku dan temanku, disuruh membuat situs baru buat lab. Setelah berunding, kami putuskan untuk membagi dua pekerjaan itu. Aku mengerjakan sistem database dan programmingnya, sementara temanku mengerjakan desain webnya. Untuk bekerja, kami masing-masing diberi fasilitas 1 unit komputer. Sayangnya, cuma 1 komputer yang nyambung ke internet, itupun hanya dengan koneksi dial-up. Terpaksa keinginan untuk browsing aku pendam.
Sambil mencari bahan buat pekerjaan, aku belajar membuat animasi flash, lumayan buat hari pertama.

Sorenya, kurang lebih jam 5,  aku berencana pulang ke Bandung, kebetulan besok tanggal 17 agustus, kantor libur. Temanku ngajak pulang bareng. Aku sih setuju-setuju aja. Tadinya aku pikir perjalanannya bakal lancar-lancar aja, 4 jam kemudian aku baru sadar kalo perkiraan itu salah besar.

——————————————————————-
Selasa malam, 16 Agustus 2005, jam 8.00 malam

Hawa pengap mengisi tiap sudut bis kota. Puluhan manusia berjejal, berhimpitan, dengan wajah masam dan lelah berpegangan di gagang besi bis kota. Bis berjalan tersendat di ruas jalan Semanggi. Macet Luar biasa saat itu. Padahal sudah bukan jam pulang karyawan, tapi jalan masih tetap padat. Dalam hati, aku cuman bisa menggerutu, Entah mau cari apa orang-orang ibukota itu malam ini, mau foya-foya barangkali. Aku cuman bisa berharap di depan, lalu lintas lebih lowong.

Kuningan, Tebet, Pancoran, semuanya macet total !!

Bajuku sudah hampir sepenuhnya basah dengan keringat. Sepanjang perjalanan dari blok M sampe terminal kampung melayu, aku cuman bisa berdiri. Tanganku sampe nggak bisa megang tas lagi. Tas kutaruh di dekat kaki, sementara tanganku berpegangan di bis kota.
Kurang lebih jam 9 kurang, aku sampai di rumah temanku, setelah makan sedikit dan minum secukupnya, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung rambutan.

Ternyata malam itu kami benar-benar lagi sial. Angkotnya mutar balik sebelum nyampe tujuan. Dengan sedikit kesal, akhirnya kami pindah ke bis kota. Dan lagi-lagi, aku kembali terselip di tumpukan penumpang bis kota. Kapok ah. Lain kali, kalo pulang, aku nggak mau lewat pusat kota lagi.

Setelah hampir 1 jam penuh perjuangan itu, kami pun tiba juga di Kampung rambutan. Cepat-cepat aku cari bis eksekutif jurusan Bandung yang lewat tol cipularang. Sebenarnya aku sih nggak masalah naik bis eksekutif atau ekonomi, cuman, perokok-perokok sialan itu benar-benar bikin aku nggak bisa menikmati perjalanan dengan nyaman, belum lagi kalo berdesakan.

Di bis, aku langsung merebahkan diri di kursi empuk, dan mulai tertidur sementara bis mulai meninggalkan ibukota.

Hhhhh ….. hari yg melelahkan ………..

Leave a Reply